Banyak di antara penulis memulai debut sebagai penulis
artikel atau esai yang memang dari segi panjang tulisan ringkas sekali
(biasa dalam ukuran 300 s.d. 2.000 kata). Bahkan, kini media massa
ataupun majalah dan jurnal ilmiah menyediakan kapling yang sangat
terbatas bagi sebuah tulisan bentuk artikel ini. Contohnya, Kompas
yang menetapkan kapling hanya 700 kata setara dengan 3,5 halaman
kuarto. Tentulah kondisi ini menuntut kepiawaian seorang penulis
menyampaikan opini berikut pemikiran pendukungnya seringkas mungkin.
Lalu, bagaimana jika artikel atau esai itu hendak dibukukan? Ya, ini sering disebut dengan
republishing articles yang dilakukan penulis atau penerbit.
Outline
buku pun merupakan outline butiran–berbeda dengan buku sejati yang
beroutline tahapan. Untuk mengonversi tulisan-tulisan tersebut menjadi
buku, Anda perlu memperhatikan tujuh tips berikut ini.
- Pastikan kumpulan artikel Anda merupakan kumpulan tulisan dengan
topik yang sama, contohnya topik pengasuhan anak (parenting) atau topik
wanita wirausaha. Anda sebaiknya tidak mencampur aneka tulisan beragam
topik dan berharap pembaca akan bisa menikmati semua tulisan Anda tanpa
kebingungan. Karena itu, jika hendak merencanakan artikel/esai menjadi
buku, sebaiknya Anda konsisten menulis dalam satu topik yang seragam.
Jadi, jangan sampai Anda menulis segala hal; ada politik, ada parenting,
ada kesehatan, bahkan ada kesenian.
- Pikirkan untuk menyusun tulisan Anda dengan urutan yang baik.
Contohnya, Anda menempatkan tulisan yang menarik pada awal, tengah, dan
akhir. Dengan demikian, ritme kemenarikan tulisan terjaga dan pembaca
mendapatkan kejutan tulisan ataupun tulisan yang terbaik di awal,
tengah, dan akhir. Jadi, jangan menyusun urutan tulisan misalnya,
berdasarkan tanggal terbit. Syukur-syukur tulisan Anda memang memiliki
daya pikat semuanya.
- Pilih tulisan yang aktualitasnya masih terjaga atau masih relevan
disajikan sebagai bahan bacaan penambah wawasan, pengetahuan, dan
hiburan. Karena itu, tulisan-tulisan opini yang sifatnya tidak terikat
momentum akan lebih relevan untuk disajikan. Jika Anda menyajikan
tulisan tentang pileg atau pilpres kembali menjadi buku, tentu kontennya
sudah “basi” karena momentumnya sudah lewat.
- Kembangkan tulisan lebih dalam. Ingat bahwa di media Anda dibatasi
kapling. Bayangkan, apa yang bisa Anda sampaikan hanya dalam dua
halaman? Karena itu, dalam buku Anda masih bisa “menarik napas lebih
panjang”. Begitupun pembaca buku menginginkan kedalaman yang lebih
daripada sekadar artikel pendek di media massa. Untuk itu, Anda dapat
merevisi atau mengembangkan artikel Anda sendiri secara lebih lengkap
dan tuntas.
- Jangan lupa menyebutkan media dan tanggal saat artikel/esai pernah
dimuat sebagai kode etik penerbitan ulang. Dalam buku, Anda juga dapat
menyajikan tulisan-tulisan yang belum pernah dipublikasikan atau tulisan
baru sebagai daya tarik untuk pembaca.
- Tambahkan visualisasi yang akan memperkuat tulisan Anda, seperti
foto, ilustrasi tangan, infografik, grafik, skema/bagan, dan tabel. Di
dalam buku sekali lagi Anda dapat lebih memperjelas isi tulisan Anda
dengan alat bantu visual tersebut.
- Jika ada lebih dari 30 tulisan yang hendak Anda sajikan, Anda dapat
membagi kelompok tulisan berdasarkan subtopik menjadi 2-3 bagian dan
pada tiap-tiap bagian termuat beberapa tulisan. Pembaca akan lebih mudah
menandai subtopik yang Anda bagi-bagi tersebut.
Demikian tujuh tips bagi Anda yang hendak membukukan kumpulan tulisannya. Semoga bermanfaat.
No comments:
Post a Comment