bagian Ka'bah Hijir Ismail
Tidak ada seorang nabi yang mengalami cobaan Allah yang lebih berat dibanding Ibrahim as. Cobaan itu bukan hanya perintah menyembelih putranya, yakni Nabi Ismail as., yang akhirnya ternyata diganti dengan seekor domba yang besar. Perintah menyembelih anak itu tentu luar biasa beratnya. Tidak ada kiranya yang lebih dari itu. Tapi itu bukan satu-satunya. Lihatlah al-Qur'an, surah (14) Ibrahim ayat 37, yang terjemahannya: "Dan ketika Ibrahim berkata, 'Tuhan kami, telah kutempatkan sebagian keturunanku di sebuah wadi yang tanpa tetumbuhan di dekat bait-Mu yang dimuliakan. Tuhan kami, agar mereka mendirikan sembahyang, maka jadikanlah sebagian hati manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki buah-buahan agar kiranya mereka bersyukur." Itulah ayat yang menuturkan titah Allah agar Ibrahim as. menaruh putranya, Isma'il as., bersama ibundanya, Hajar, di lembah Mekah yang kering dan terpencil. Doa yang sedih di atas itu diucapkan layaknya setelah nabi besar itu meninggalkan mereka, dan berhenti sejenak untuk terakhir kalinya, sebelum meneruskan perjalanan jauh ke arah utara.
Kita kemudian mengetahui kelanjutan kisah ini. Anak dan ibu yang mulia itu, Ismail dan Hajar, pada akhirnya mendapatkan sumur Zamzam. Berikutnya mereka didatangi orang-orang dari suku Jurhum yang tinggal di dekat-dekat situ. Ismail as. nantinya kawin dengan perempuan Jurhum itu, dan berketurunan. Dan inilah babakan sejarah selanjutnya:
Menurut Ibn Hisyam (wafat 218 H), terutama berdasarkan riwayat Ibn Ishaq (wafat 150/153 H), Ismail as. berputra 12 laki-laki. Ibn Ishaq mengambil data untuk riwayat ini bukan dari Nabi saw., melainkan dari para penutur yang kuat ingatan terutama para ahli nasab di kalangan Arab asli. Tidak mustahil di antaranya juga terdapat sahabat Nabi. Nah, ke-12 putra Ismail as. itu adalah Nabit atau Nabt, yang sulung, lalu Qaidzar, Adzyul, Mabsya atau Mansya, Misma'a, Masyi atau Masi, Dimma atau Dimar, Adzar atau Adar, Thima atau Taima, Yathur atau Tathur atau Thur atau Tathura, Nabisy atau Naisy atau Nafis atau Yafisy atau Fans, dan Qaidzuma atau Qaiduman.
Adapun ibu mereka adalah Ra'lah binti Mudhad atau Midhad bin 'Amr dari suku Jurhum. Tetapi dalam kitab Ar-Raudhul Unuf, ibu mereka itu As-Saiyidah. Bisa saja, kan, As-Saiyidah itu panggilan, karena arti kata itu "tuan putri". Ismail as. juga pernah punya istri yang lain, yang namanya Hida' binti Sa'd, juga dari suku Jurhum. Tapi istri inilah yang oleh ayah Ismail, Nabi Ibrahim, as., disuruhceraikan oleh putranya.
ISMAIL BERGANTI ISTRI
Suatu hari, Ibrahim as. mengunjungi putranya di Mekah itu. Tidak jelas apakah kunjungan ini dilakukan setelah atau sebelum Allah memerintahkan kedua beliau itu membangun Kabah kembali (atas dasar fondasi yg masih ada, yang diriwayatkan sejak dari Nabi Adam). Tapi jelas kunjungan ini setelah peristiwa penyembelihan Ismail as. di atas itu. Nah, sampai di depan rumah Ismail, di Mekah, Nabi Ibrahim melihat seorang perempuan di depan. Ia ternyata menantunya, isti Ismail. Lalu ditanyainya tentang suaminya, dan bagaimana keadaan hidup mereka. Tapi jawaban perempuan itu tidak menyenangkan. Ia berkeluh kesah tentang kesukaran hidup, dan tentang suaminya yang tidak mampu. Kira-kira seperti itu.
Nabi Ibrahim lalu minta diri. Beliau hanya meninggalkan pesan agar suaminya mengganti bendul pintu rumahnya. Sepulang Nabi Ismail, perempuan itu menuturkan kedatangan tamu yang tak dikenal itu, dan pesannya agar ia mengganti bendul pintu rumahnya. Seketika itu suaminya menyahut, "Itu Ayah. Ia menyuruh aku memulangkan engkau ke keluargamu." Ismail lalu kawin lagi. Nama isti baru ini Samah (tapi ada yang menyebutnya 'Atikah), binti Muhalhil. Inilah, mungkin, yang bertemu dengan Nabi Ibrahim pada kedatangan beliau yang lain. Waktu itu Ibrahim, sepeti pada kedatangan yang lalu, juga bertanya tentang suaminya dan keadaan kehidupan mereka. Suaminya tidak ada, tapi jawaban perempuan itu manis sekali.
Malahan ia mengambil air, lalu menghormati laki-laki tua itu dengan membantu mencuci kepala beliau, kemudian mencuci kedua kaki beliau, sementara sang mertua tetap duduk di punggung unta. Sepulang Ismail, ia bercerita tentang seorang tamu laki-laki tua yang baik dan berwibawa, tapi tidak bersedia menunggu. Tamu itu memaksa pergi setelah meninggalkan kata-kata untuk disampaikan kepada suaminya. Bunyinya, "Bendul pintu rumahmu sudah bagus". Mendengar itu, sahut Ismail, "Itu ayah. Ia memuji kamu." Cerita ini bisa kita dapatkan misalnya dalam kitab kecil 'Uqudul Lijjain fi Bayani Huquqiz Zaujain karangan Syaikh Nawawi al-Jawi dari Tanara, Banten, yang hidup di Mekah di abad ke-19.
Nah. Jurhum itu adalah suku yang pertama kali berhubungan dengan Nabi Ismail dan ibunda beliau, Hajar. Jurhum sendiri, bijak bakal suku, menurut Ibnu Hisyam adalah putra Qahthan, sedangkan Qahthan adalah bapak orang Yaman seluruhnya (Yaman terletak di sebelah selatan Jazirah Arab. Ke dalamnya termasuk Hadramaut). Qahthan adalah bin Amir, bin Syalikh
Adapun umur Ismail as. menurut para ahli riwayat, 130 tahun. Beliau dimakamkan bersama ibundanya, Hajar, di bagian Ka'bah yang kemudian disebut Hijir Isma'il. Wallahu'alam bil shawab.
No comments:
Post a Comment